Tampilkan postingan dengan label Motor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motor. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Juli 2017

Jumlah Kumparan Pada Koil Pengapian Sepeda Motor

Jumlah Kumparan Pada Koil Pengapian Sepeda Motor - Koil pengapian adalah komponen pada sistem pengapian yang berfungsi untuk menaikkan tegangan yang diterima dari baterai atau alternator (tergantung apakah jenis pengapiannya adalah pengapian AC ataukah pengapian DC), yang kemudian tegangan tersebut dinaikkan menjadi tegangan tinggi yang diperlukan oleh busi untuk proses pembakaran campuran bahan bakar dan udara di dalam ruang bakar. Bisa dibayangkan jika kerja koil pengapian ini mengalami kendala atau masalah, maka koil pengapian tidak dapat menaikkan tegangan dari sumber tegangan, akibatnya tidak ada tegangan tinggi pada busi dan busipun tidak dapat memercikkan bunga api, sehingga kendaraan menjadi mati karena tidak ada pembakaran campuran bahan bakar dan udara. Dari sini kita dapat menganalisis juga bahwa penyebab busi mati tidak selalu busi itu sendiri, artinya ketika kita memeriksa sepeda motor kita mati lalu setelah dicek ternyata busi mati, maka belum tentu businya yang rusak, bisa jadi koil pengapianlah yang bermasalah. Atau sobat dapat meruntutnya dari busi hingga baterai (periksa seluruh sistem pengapian sepeda motor). Kembali ke topik pembahasan, berkaitan dengan koil pengapian, banyak dari kita yang belum tahu bahwa koil pengapian “hanya berisi” beberapa kumparan yang dililitkan pada sebatang besi. Namun tahukah berapa jumlah kali lilitan pada kumparan koil tersebut? nah kali ini Guru Otomotif akan membahasnya.
Namun belelum Guru Otomotif membahas kumparan pada koil, terlebih dahulu kita pelajari komponen-komponen pada koil pengapian berikut ini.

Komponen Koil Pengapian Sepeda Motor

Komponen koil pengapian (ignition coil) pada sepeda motor yaitu ada bodi koil yang juga berfungsi sebagai massa, ada kabel tegangan tinggi yang menuju busi, kabel dari kontak platina, kumparan primer, inti plat besi, dan kumparan sekunder. Gambar komponen koil pengapian dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Di dalam kumparan koil pengapian tersebut terdapat dua jenis kumparan, yaitu kumparan primer dan kumparan sekunder yang dililitkan pada tumpukan plat besi tipis. Antara kumparan primer dan kumparan sekunder memiliki diameter kawat dan jumlah lilitan yang berbeda.

Kumparan Primer

Pada kumparan primer memiliki diameter kawat antara 0,6 - 0,9 mm dengan jumlah lilitan antara 200 – 400 kali lilitan. Lilitan 200 – 400 adalah jumlah yang tidak sedikit, bisa dibayangkan jika sobat Guru Otomotif membuatnya sendiri, berapa waktu yang dibutuhkan untuk membuat lilitan sebanyak itu? Namun jangan kaget karena masih ada lilitan sekunder yang jumlahnya lebih fantastis.

Kumparan Sekunder

Pada lilitan sekunder memiliki diameter kawat 0,05 – 0,08 mm, yakni lebih kecil dari pada diameter kawat pada kumparan primer. Hal ini dikarenakan jumlah lilitan pada kumparan sekunder lebih banyak. Jumlah lilitan pada kumparan sekunder sebanyak 2000 – 15.000 kali lilitan, banyak sekali bukan. Kira-kira berapa waktu yang diperlukan bagi sobat Guru Otomotif seandainya membuat sendiri lilitan sekunder tersebut?

Karena adanya perbedaan jumlah gulungan atau lilitan pada kumparan primer dan kumparan sekunder tersebut, maka kumparan sekunder akan terinduksi dengan cara mengalirkan arus listrik secara terputus-putus (terhubung dan terputus) pada kumparan primernya, sehingga pada kumparan primer akan muncul dan hilang kemagnetannya secara tiba-tiba dan berulang-ulang. Dengan demikian terjadi induksi pada kumparan sekunder dan timbul tegangan tinggi sebesar 10.000 – 15.000 volt. Itulah prinsip dasar koil pengapian pada sepeda motor. Dan jika sobat Guru Otomotif pernah bermain tamiya, pada dinamo tamiya  juga ada lilitannya yang biasanya ditambah jika ingin menambah power atau tenaga pada tamiya tersebut, prinsipnya hampir sama.

Demikianlah artikel tentang jumlah kumparan pada koil pengapian sepeda motor, semoga dapat mudah dipahami dan bermanfaat. Silahkan disebarkan.

Rabu, 04 Januari 2017

Biaya Pengurusan STNK, BPKB, TNKB, dan Plat Nomor Kendaraan Baru 2017

Biaya pengurusan STNK, BPKB, TNKB, dan plat nomor kendaraan baru 2017 – Selamat datang kembali di website Guru Otomotif, kali ini Guru Otomotif akan membahas kabar gembira untuk kita semua, kabar ini berkaitan dengan pengurusan STNK, BPKB, TNKB, maupun plat nomor kendaraan. Bagi sobat Guru Otomotif yang hendak mengurus STNK, BPKB, TNKB, dan plat nomor entah pembuatan baru atau perpanjangan maka ada perubahan terkait dengan biaya pengurusannya. Lalu berapakah biaya pembuatan atau perpanjangan STNK, BPKB, TNKB dan plat nomor yang baru 2017 ini? simak artikel Guru Otomotif berikut ini.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 60 Tahun 2016 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di Lingkungan POLRI yang merupakan pengganti dari Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2010, bahwa berlaku mulai tanggal 6 Januari 2017 biaya pengurusan yang terkait dengan STNK, BPKB, TNKB, dan plat nomor kendaraan adalah sebagai berikut ini:

No
Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak
Tarif Lama
(PP 50 Tahun 2010)
Tarif Baru
(PP 60 Tahun 2016)
1
Penerbitan Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNK)



Rp. 50.000
Rp. 50.000

Rp. 75.000
Rp. 75.000



Rp. 100.000
Rp. 100.000

Rp. 200.000
Rp. 200.000
Roda 2 atau roda 3
Baru
Perpanjangan
Roda 4 atau lebih
Baru
Perpanjangan
2
Pengesahan Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNK)


-
-


Rp. 25.000
Rp. 50.000
Roda 2 atau roda 3
Roda 4 atau lebih
3
Penerbitan Surat Tanda Coba Kendaraan Bermotor (STCK)


Rp. 25.000
Rp. 25.000


Rp. 25.000
Rp. 50.000
Roda 3 atau roda 3
Roda 4 atau lebih
4
Penerbitan Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB)


Rp. 30.000
Rp. 50.000


Rp. 60.000
Rp. 100.000
Roda 2 atau roda 3
Roda 4 atau lebih
5
Penerbitan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB)



Rp. 80.000
Rp. 80.000

Rp. 100.000
Rp. 100.000



Rp. 225.000
Rp. 225.000

Rp. 375.000
Rp. 375.000
Roda 2 atau roda 3
Baru
Ganti kepemilikan
Roda 4 atau lebih
Baru
Ganti kepemiikan
6
Penerbitan Surat Mutasi Kendaraan Bermotor ke Luar Daerah


Rp. 75.000
Rp. 75.000


Rp. 150.000
Rp. 250.000
Roda 2 atau roda 3
Roda 4 atau lebih
7
Penerbitan Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor Lintas Batas Negara (STNK-LBN)



-
-

-
-



Rp. 100.000
Rp. 100.000

Rp. 200.000
Rp. 200.000
Roda 2 atau roda 3
Baru
Perpanjangan
Roda 4 atau lebih
Baru
Perpanjangan
8
Penerbitan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor Lintas Batas Negara (TNKB)


-
-


Rp. 100.000
Rp. 200.000
Roda 2 atau roda 3
Roda 4 atau lebih
9
Penerbitan Nomor Registrasi Kendaraan Bermotor (NRKB) Pilihan



-
-



Rp. 20.000.000
Rp. 15.000.000
NRKB pilihan 1 (satu) angka
Tidak ada huruf belakang (blank)
Ada huruf dibelakang angka
NRKB pilihan 2 (dua) angka
Tidak ada huruf belakang (blank)
Ada huruf dibelakang angka

-
-

-
-

Rp. 15.000.000
Rp. 10.000.000

Rp. 10.000.000
Rp.7.500.000
NRKB pilihan 3 (tiga) angka
Tidak ada huruf belakang (blank)
Ada huruf dibelakang angka
NRKB pilihan 4 (empat) angka
Tidak ada huruf belakang (blank)
Ada huruf dibelakang angka

-
-

Rp. 7.500.000
Rp. 5.000.000

Bagaimana menurut sobat Guru Otomotif? Apakah biaya-biaya pengurusan STNK, BPKB, TNKB, dan plat nomor di atas mahal atau pas? Silahkan tuliskan komentar sobat Guru Otomotif melalui kolom komentar di bawah ini.
Demikianlah artikel tentang biaya pengurusan STNK, BPKB, TNKB, dan plat nomor kendaraan baru 2017 semoga bermanfaat. Silahkan dibagikan agar semakin banyak yang tahu.

Sabtu, 26 November 2016

Cara Kerja Sistem Pengapian Konvensional DC Pada Sepeda Motor

Cara kerja sistem pengapian konvensional DC pada sepeda motor – Cara kerja sistem pengapian konvensional sebetulnya sama baik pada pengapian AC maupun pada pengapian DC. Yang membedakan hanyalah pada sumber tegangannya, jika pada sistem pengapian AC sumber tegangannya adalah alternator, maka pada sistem pengapian DC sumber tegangannya adalah baterai. Untuk cara kerja sistem pengapian AC sobat Guru Otomotif dapat membacanya pada artikel cara kerja sistem pengapian konvensional magnet pada sepeda motor. Berikut ini cara kerja sistem pengapian DC sepeda motor:

Ketika Kunci Kontak OFF
Pada saat kunci kontak OFF, hubungan sumber tegangan (batterai) dengan rangkaian sistem pengapian masih terputus, sehingga tidak ada arus yang mengalir dan motor tidak dapat dihidupkan.


Ketika Kunci Kontak ON
Pada saat kunci kontak ON dan kontak platina dalam posisi menutup (posisi cam tidak menekan kontak platina), maka arus dari baterai akan mengalir ke kunci kontak, ke kumparan primer koil pengapian, ke kontak platina, dan ke massa. Akibatnya pada kumparan primer koil pengapian terjadi kemagnetan.
Ketika kontak platina mulai membuka, maka nok mulai menekan kontak platina dan kontak platina akan membuka. Arus primer yang mengalir ke massa menjadi terputus karena kontak platina membuka. Hal ini berakibat kemagnetan pada kumparan primer koil menjadi hilang. Pada saat yang sama, kondensor atau kapasitor akan menyerap arus yang diputus oleh kontak platina agar pemutusan arus primer akan menjadi lebih cepat dan sempurna (tanpa ada loncatan bunga api di kontak platina).

Hilangnya kemagetan pada kumparan primer koil pengapian akan menyebabkan munculnya induksi tegangan yang sangat tinggi, yaitu sekitar 10.000 volt pada kumparan sekunder koil pengapian untuk selanjutnya diteruskan ke busi. Di busi tegangan tinggi tersebut diubah menjadi percikan bunga api oleh kedua elektroda busi. Percikan bunga api inilah yang digunakan untuk membakar campuran bahan bakar dan udara di dalam ruang bakar.
Demikianlah artikel tentang cara kerja sistem pengapian konvensional DC pada sepeda motor, semoga mudah dipahami dan bermanfaat. Silahkan dibagikan

Komponen Sistem Pengapian Konvensional DC Pada Sepeda Motor

Komponen Sistem Pengapian Konvensional DC Pada Sepeda Motor – sistem pengapian konvensional merupakan sistem pengapian yang masih menggunakan platina untuk memutus arus primer koilnya. Walaupun saat ini platina sudah semakin jarang digunakan dan digantikan dengan CDI. Sistem pengapian konvensional pada sepeda motor berdasarkan jenis sumber tegangannya dibedakan menjadi 2, yaitu sistem pengapian konvensional  DC (Direct Current) dan sistem pengapian konvensional AC (Alternating Current). Sistem pengapian konvensional AC menggunakan alternator sebagai sumber tegangannya sehingga arusnya bolak-balik, sobat Guru Otomotif dapat membacanya pada artikel cara kerja sistem pengapian magnet pada sepeda motor. Sementara itu sistem pengapian DC menggunakan baterai sebagai sumber tegangannya, sehingga arus yang digunakan adalah searah. Di artikel ini Guru Otomotif akan membahas apa saja komponen sistem pengapian konvensional DC pada sepeda motor. Berikut ini komponen-komponennya:


Baterai
Baterai adalah sebuah alat elektrokimia yang dirancang untuk mensuplay energi listrik bertegangan rendah ke beberapa sistem pada sepeda motor, misalnya sistem pengapian, sistem strarter, sistem penerangan, maupun komponen listrik lainnya. Baterai pada sepeda motor memiliki kapasitas 6 volt atau 12 volt. Baterai menyimpan energi listrik dalam bentuk kimia yang akan dikeluarkan ketika diperlukan dan sesuai dengan beban yang dibutuhkan.

Kunci Kontak
Kunci kontak berfungsi sebagai saklar utama yang berfungsi untuk memutus dan menghubungkan rangkaian kelistrikan pada sepeda motor.

Koil Pengapian
Koil pengapian berfungsi untuk menaikkan tegangan yang didapat dari sumber tegangan (baik baterai atau alternator) menjadi tegangan tinggi yang dibutuhkan sistem pengapian. Di dalam koil pengapian terdapat dua kumparan atau lilitan, yaitu kumparan primer koil dan kumparan sekunder koil. Jumlah lilitan kumparan primer koil lebih sedikit dari pada kumparan sekunder koil, karenanya tegangan yang dihasilkan ketika terjadi induksi diri pun lebih besar pada kumparan sekunder.

Kontak Platina
Kontak platina berfungsi untuk memutus arus listrik yang mengalir pada kumparan primer koil, hal ini untuk dihasilkan induksi diri pada kumparan sekunder (ketika arus di kumparan primer diputus), munculnya induksi diri pada kumparan sekunder akan menghasilkan tegangan tinggi pada kumparan sekunder yang selanjutnya digunakan untuk memercikkan bunga api.

Nok (Cam)
Nok berfungsi untuk membuka kontak platina dalam waktu yang tepat.

Kondensor
Kondensor berfungsi untuk menyerap loncatan bunga api pada kontak platina pada saat platina mulai membuka, tujuannya adalah untuk meningkatkan tegangan pada kumparan sekunder koil. Ketika loncatak bunga api pada koil tidak dihilangkan oleh kondensor, maka arus akan tetap mengalir pada kumparan primer koil, silahkan baca artikel inilah dampak jika kondensor pengapian rusak.

Busi
Busi berfungsi untuk mengubah arus listrik bertegangan tinggi menjadi percikan bunga api yang keluar melalui celah elektroda busi.
Demikianlah artikel tentang komponen sistem pengapian konvensional DC pada sepeda motor, semoga bermanfaat. Silahkan dishare.